Dolar Australia melemah menembus di bawah $0,703, terkoreksi dari level tertinggi tiga minggu setelah gagalnya perundingan damai AS–Iran dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz memicu pergeseran sentimen global ke aset aman (risk-off) dan menguatkan dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah AS berencana memperketat pembatasan pengiriman melalui Selat tersebut menyusul gagalnya negosiasi akhir pekan dengan Iran, yang mendorong harga minyak naik dan memperbesar kekhawatiran inflasi global. Kenaikan biaya energi telah memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral mungkin akan menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan kembali mengetatkan kebijakan.
Di Australia, RBA sudah dua kali menaikkan suku bunga tahun ini hingga mencapai 4,10%, dengan pasar memperhitungkan kenaikan lagi pada Mei dan puncak suku bunga mendekati 4,65% pada akhir tahun. Kehati-hatian investor meningkat menjelang rilis data pasar tenaga kerja pekan ini, setelah tingkat pengangguran secara tak terduga naik ke level tertinggi tiga bulan. Sementara itu, reli dolar Australia selama setahun terhadap dolar Selandia Baru tampaknya mulai kehilangan momentum setelah RBNZ mengambil nada yang lebih hawkish. Pelaku pasar kini menantikan komentar dari Wakil Gubernur RBA Hauser untuk mendapatkan petunjuk apakah kebijakan Australia akan tetap sehawkish bank sentral utama lainnya.