Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia naik sekitar 1% hingga mendekati MYR 4.600 per ton pada hari Senin, bangkit dari pelemahan sebelumnya seiring ringgit yang melemah dan penguatan soyoil Chicago yang menopang harga. Sentimen semakin terangkat oleh reli minyak mentah global setelah gagalnya pembicaraan Amerika Serikat–Iran, yang mendorong selera risiko.
Faktor fundamental pasar juga memberikan dukungan. Data dari Malaysian Palm Oil Board menunjukkan bahwa stok pada Maret turun untuk bulan ketiga berturut-turut dan menyentuh level terendah dalam tujuh bulan. Di India, sebagai pembeli terbesar, ekspektasi penimbunan ulang menjelang permintaan musiman meningkat setelah impor minyak sawit pada Maret turun 19% ke posisi terendah dalam tiga bulan.
Namun, momentum kenaikan tertahan oleh proyeksi ekspor yang lebih lemah. Lembaga survei kargo melaporkan bahwa pengapalan minyak sawit dalam sepuluh hari pertama April turun antara 30,7% hingga 38,9% dibandingkan periode yang sama pada Maret. Perkembangan kebijakan di Indonesia, pemasok terbesar dunia, juga menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo memerintahkan tindakan hukum terhadap perusahaan yang menolak penindakan di sektor kehutanan, dengan otoritas sejauh ini telah menyita 5,88 juta hektare perkebunan kelapa sawit.