Won Korea Selatan terdepresiasi ke sekitar 1.487 per dolar, memperpanjang pelemahan sesi sebelumnya seiring memburuknya sentimen risiko global di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelemahan ini terjadi setelah perundingan Amerika Serikat–Iran berakhir tanpa kesepakatan dan keputusan Washington berikutnya untuk memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan dan mendorong naiknya permintaan aset safe haven berupa dolar AS.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah naik menembus USD 100 per barel, menambah tekanan depresiasi terhadap won dengan meningkatkan biaya impor energi Korea Selatan. Sebagai negara pengimpor energi utama, Korea Selatan sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak. Aksi jual investor asing di pasar saham domestik turut mendorong arus keluar modal, sementara pelemahan selera risiko secara global juga menekan mata uang tersebut.
Di dalam negeri, otoritas Korea Selatan berupaya menstabilkan pasokan energi dan melakukan diversifikasi sumber minyak mentah, termasuk melalui peningkatan pengadaan dari Kazakhstan dan Amerika Serikat.